Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sunday, 7 June 2015

Rembulan Masih Merah di Kota Ramallah

Rembulan Masih Merah di Kota Ramallah

 Oleh : Fathul Khair Tabri 
Rembulan Merah

Malam ini bulan nampak merah. Kepulan asap memenuhi setiap sudut kota. Tangisan bergemuruh di atas hamparan tanah yang penuh ranjau. Malam ini langit penuh warna. Merah, orange, dan kilatan putih berganti menghantam langit kota kami. Ini bukan festival kota, tak ada bianglala yang menghias di sepanjang jalan ini, tak ada permen kapas, tak ada tawa, tak ada senyum yang mengembang dari setiap keluarga di kota ini. Inilah kota yang hampir mati, penuh tangis, penuh duka, dan penuh darah. Inilah Ramallah.

Kulihat sebuah roket melaju begitu gesit disertai kepulan asap  menembus awan kota kami. Meledakkan bangunan tinggi yang masih tersisa. Seluruh wanita berlari meninggalkan tempat itu.  Di sudut kota lain terlihat jalanan masih padat. Terlihat demonstran yang menuntut haknya sepanjang jalan ini. Buruh-buruh tumpah ruah di jalan. Anak-anak menangis diatas tubuh orang tuanya yang telah tiada. Malam ini adalah malam yang panjang.

Petikan mentari masih sedikit menyambar kota kami. Tak ada yang begitu istimewakulihat, hanya setumpuk puing-puing bangunan yang berserakan, tanah yang tandus, dan orang yang mengerumuni mayat-mayat akibat peristiwa semalam. Aku tak pernah tahu mengapa negeriku ini tidak adil bagi kami. Oh, aku salah! bukan negeriku yang membuat kami seperti ini. Tapi merekalah yang hidup dengan hedonisme mereka sendiri hingga melupakan kami, sibuk dengan jabatan dan ambisimereka, dantentu     saja sibukdengan ego mereka.   

"Umma! kenapa wajah umma terlihat lebih pucat, dan tubuh umma jauh lebih kurus dari yang dulu?" tanya seorang bocah.   

"Nak! lihat wajah umma, umma jauh lebih baik saat ini, umma sehat." jawabnya singkat, dengan senyum yang mengembang di wajahnya.   

Surya mulai meninggi. Langit-langit masih menggantung, dan pohon mulai nampak mengering. Kulihat, bocah itu terus memeluk ibunya. Hanya suara kecil yang kudengar, bisikan angin Terus menerpa wajahku.   
           
"Umma! dimana aba? kenapa sejak enam hari yang lalu ia tak kembali?"tanya bocah kecil itu yang berumur kisaran sepuluh tahun.

“Aba pergi mencari bantuan Yahfiz, di tempat yang indah, tempat yang selalu di rindukan oleh orang-orang”balas ibunya.

Di bawah tenda tua berwarna biru, bocah itu terus bertanya tak henti-hentinya.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari jarak ratusan meter dari tenda pengungsian, dentuman besar menyambar di telinga orang-orang di siang hari. Angin menerbangkan debu begitu cepat, kepulan asap menyeruak memenuhi tenda-tenda pengungsian. Ratusan orang berlari menyelamatkan diri. Terdengar suara hentakan sepatu ratusan serdadu.

Dari jarak jauh, timah timah emas menembus tubuh rakyat sipil. Jeritan-jeritan mulai terdengar.Ratusan rakyat sipil mengambil senjata yang ia simpan. Wanita mengambilbatukerikil,berbaris di belakang mujahidin, melempar dengan sekuat tenaga. Takbir memenuhi langit-langit Ramallah .   

Bocah itu berlari di belakang ibunya, tak ada sedikitpun rasa takut yang tergambar di wajahnya.

"Yahfizz! Larilah nak! Idzhab ilal wilayatil gorbiyyati Selamatkan dirimu. Allah selalu bersamamu." Teriak ibu sang bocah tadi.Air mata tertumpah ruah di medan jihad.


Bocah ituberlaridanterus berlari."Aba...Aba... tolong umma!" Teriaknya penuh ketakutan.   
Tak ada yang memperdulikannya, semua orang sibuk menghadang tentara zionis. Truk-truk datang silih berganti menawan orang-orang yang dianggap pemberontak.   

"Ini tanah kami! Ini tanah kami!" Ucap seorang pemuda saat diseret menuju truktersebut. Darah mengalir di pelipis matanya.

Tank-tank menorobos di tengah blokade massa. Tembakan menjadi membabi buta. Satu, dua, orang –orang tumbang seketika. Darah mengalir deras di balik bajunya, menggenang seketika di bawah langit.

“Takbiiir...Takbir... AllahuAkbar”

Terdengar suara di balik wajah seorang lelaki tua, debu memenuhi wajahnya.
Siang ini, Ramallah terlihat lebih menakutkan.

Bocah itu terjatuh dan tak sadarkan diri. Siang itu begitu menyengat, sangat menyengat. Bocah itu terbangun di bawah tenda putih yang berada tepat di atasnya. ia melihat orang-orang terluka di sekelilingnya. Kapas-kapas menyerap darah  yang keluar dari robekan pergelangan tangan orang yang berada disampingnya. Bocah itu tahu kalau ia telah selamat.

Seseorang berseragam putih datang menghampirinya. “kau beruntung dapat selamat nak!” ucap seorang relawan kemanusiaan itu.

“Bagaimana dengan umma! Tolong dia. aku mohon, Izinkan aku  pergi kesana,” Bocah kecil itu berkata. 

“Kalla! hunaka khatr, yumkinuka tadhar . Semua tempat disana sudah hancur akibat rudal-rudal yang terus menghantamnya.


***

"Yahfiz!"

Seseorang menyentuh lenganku. Itu istriku, Aisyah. Ia menyadarkanku dari lamunan panjang di depan perkuburan massal di kota Ramallah.   
Di depan batu nisan ini, aku terus memandang foto tua keluargaku yang masih tersisa.

Aku mestinya tahu, bahwa saat ibu mengatakan Ayah mencari bantuan, ia telah tiada,  tewas bersama mujahidin lainnya. Seribu penyesalan hinggap di pikiranku, aku tak mampu melindunginya, wanita terhebat yang kupunya, umma.

Aku tetap berdiri di samping istriku. Aku tak sanggup membendung air mata ini. Bibir ini keluh, diam seribu bahasa.

“Pasti ia bangga denganmu, bocah tangguh yang ia lahirkan.”ucap Aisyah menenangkanku.
Ibu mati di saat aku mencari ayah. Di medan jihad, dua puluh tahun yang lalu. Wanita tangguh penuh semangat, dengan batu ia berjihad. Kau yang terhebat,umma.
Bisikan angin terus menerpa wajahku. Sekuntum bunga kutaruh di atas tanah makam yang telah lama mengering.

Aishe, Lady Of Palestine

12 April 2009
Kepada-Nya  yang selalu mendekapku.
Keringatku terus bercucuran. Ruang ini begitu sempit, begitu sesak. Sebuah ruangan tak lebih dari 2 kali 3 meter di bawah tanah. Kami tak dapat banyak bergerak di bawah sini, selain ruangan yang begitu sempit, kami juga harus menyembunyikan diri dari orang-orang jahat yang akan menyerang kami. Entah apa yang terjadi di atas, takbir begitu keras menggema di antara suara tembakan. Mungkinkah kami dapat menang hari ini? Semoga ya Rabb. Ry… aku sangat takut di sini! Bagaimana bila orang-orang itu tahu kalau kami bersembunyi di sini? atau jangan-jangan kami akan mati dengan kehabisan oksigen? Ya Rabb kami butuh pertolonganmu. Entah sudah berapa hari kami bersembunyi di bawah sini, bersembunyi di bawah parit yang tertutupi. 

13 April 2009
Kepada-Nya yang selalu mendekapku.
Allahu musta’an Abi memutuskan untuk bergabung dalam rombongan yang akan membantu mujahidin lainnya di atas sana, apa yang harus aku perbuat Ry?  Aku sangat hawatir dengan Abi. Ia begitu azam dengan janjinya, akan menyelamatkan tanah leluhur kami, tanah yang begitu diberkati, tanah para nabi. Aku akan mendoaknmu Abi! Allah pasti memberikan kemenangan ini buat kita.

Ia akan keluar dari tempat persembunyian ini di malam hari, bersama para mujahidin lainnya. Kulihat Abi masih berzikir, sesekali ia melantunkan Qalam Ilahi dengan suara yang pelan. Ada gelora di bulatan matanya, sangat jelas kulihat.

Aku masih ingat saat pertama kali Abi menghadiahkan buku tulis ini padaku. Bahagia rasanya, di lingkungan kami, mendapatkan makanan sangatlah susah terlebih lagi mendapatkan sebuah buku. Kata Abi buku ini pemberian dari relawan yang pernah memberikan bantuan pada warga kami, dan Abi menghadiahkannya padaku saat aku berhasil menghafal Al-Quran tepat di bawah dua belas tahun. Bagi warga kami, mampu menghafalkan Qalam ilahi ada sebuah kehormatan dan kemuliaan bagi kami. Hampir seluruh warga menghafalnya.

Senja telah kembali di peraduannya. Sedikit lagi Abi akan bergerak bersama mujahidin ke medan jihad. Aku memeluknya dengan kuat, mata ini berarir dan tak mampu menahannya. “Allah akan selalu berada disisi kita. Ingatlah bahwa darah Abi telah mengalir dalam dirimu, kuharap kau mampu bersabar dengan semua ini.  Kita akan pasti menang anakku! Abi akan selalu mencintaimu, Assalamualaiakum” hanya suara itu yang kudengar saat melepasnya pergi. Sungguh, kuharap Abi dapat kembali.

20 April 2009
Ry… aku ingin bertemu dengan Abi. Sudah sepekan aku tak mendengar kabarnya, tapi kudengar para pasukan mujahidin berhasil merebut beberapa wilayah di bagian barat daerah kami. Semoga Abi salah satu yang terselamatkan. 

Alhamdulillah, relawan akhirnya datang juga. Kami sangat bersyukur ternyata masih ada orang yang peduli dengan kami. Kupikir aku, kakakku dan warga kami akan mati seperti di daerah lainnya, mati kelaparan. sekulum senyum dari kami, dan doa terus mengalun indah di antara warga kami.
Kulihat kepala pemimpin kami berunding dengan dua, tiga orang dari relawan. Entah apa yang ia katakan, tapi wajah Ahmed pemimpin kami meneteskan air mata. Beberapa menit kemudian ia menemui kami. Ia tertunduk lesu, matanya berkaca-kaca, dan tangannya kanannya memasukkan Qur’an ke saku atas bajunya.

Ry… kami harus berangkat dari sini. Kata pak Ahmed memutuskan tadi sore. Daerah ini sudah sangat tak aman. Ia menghawatirkan kami bila masih terus bertahan di tempat ini. Beberapa daerah telah dikuasi oleh biadab-biadab itu, dan penduduk muslim dibantai tak mengenal ampun.

21 April 2009
Semua telah berkumpul di bawah langit malam ini. begtu dingin hingga menusuk tulangku. Bulan tak nampak di malam ini, mungkin ia sedih melihat kami. Sebuah tragedi kemanusiaan yang tak dipedulikan oleh dunia. Dimana kalian? Kata Abi orang-orang muslim memiliki ukhuwah yang erat, dan tak dapat dipisahkan. Namun, kemana kalian? Apakah kabar kami tak sampai padanya, ataukah ada yang lebih penting dari saudara-saudara muslimnya yang  dibantai, diperkosa dan dihujami rudal-rudal setiap detik. Miris, hanya segelintir yang dapat melihat kami.
Setapak demi setapak kami berjalan. Menyusuri kegelapan dengan lentera seadanya. Kak Yasser, satu-satunya keluarga yang kupunya harus tinggal di pemukiman kami bersama beberapa pemuda dan orang tua. Katanya, ia adalah pejuang-pejuang Palestine, tak mengenal lelah dan tak mengenal putus asa karena Allah selalu bersamanya. Aku memeluknya dengan erat, sangat erat. Ia berbisik “Jadilah mujahidah Palestina dan tegakkan Agama Allah di mana pun bumi kau pijak. Kau tak usah menungguku, aku bahagia bila syahid di medan jihad. Kuharap kau berbesar hati, Aishe!” air mataku kembali berjatuhan.

1 Mei 2009
Aku tak bisa terus begini, Ry. Biadab-biadab itu kembali menyerang kami. Sudah puluhan warga tewas akibat serangannya, termasuk pemimpin kami pak Ahmed. Keputusanku kini bulat, aku akan pergi bersama mujahidin dan mujahidah lainnya malam ini. Ini adalah jalan satu-satunya yang harus kutempuh. Ini tanah kami, negeri kami. Mereka tak berhak mengambilnya. Kuharap penderitaan kami akan berakhir. Juga, kuharap buku diary ini akan ditemukan oleh para relawan dan mampu menggugah hati saudara-saudara seiman kami. Mendoakan kami. Allahuakbar aku akan menyusulmu Abi, Umi, dan kak Yasser.

***


“FREEDOM PALESTINE” Berita itu mengudara beberapa tahun ini. seluruh media massa tak ketinggalan memberitakannya. Ormas, organisasi kemanusiaan, dan tak pula organisasi dakwah turut serta dalam mengampanyekan kebebasan Palestina.

“Sungguh kisah yang tragis.” Batinku membisik. Teman-teman meneteskan air mata saat membacanya. Sebuah diary wanita Palestina dalam mempertahankan kehormatan negaranya yang tersebar luas di media internet dengan nama ‘Aishe Lady of Palestine’.

Oleh : Fathul Khair Tabri

Gazza! Dibawah Altar Langit Malam

Gazza! Dibawah Altar Langit Malam 

Oleh : Fathul Khair Tabri
Gazza Di Bawah Altar Langit Malam

Alya memandang gedung di sekelilingnya yang telah runtuh dan tertutupi oleh pasir dan debu yang menyelimutinya. Sudah berkali-kali ia menatap dan tetap tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Terlihat lingkaran hitam yang terpajang di bawah mata sayupnya, entah sudah berapa lama ia menahan rasa kantuknya, akibat suasana yang masih memanas. Di bawah altar langit malam, tak sorang pun tidur diantara mereka. Begitupun dengan Alya yang terus saja menyepi di sudut ruangan tanpa atap bersama ayahnya. Dinginnya udara yang menemani di malam-malam yang begitu mencekam tak membuat di antara mereka terlihat ketakutan dan cemas terhadap apa yang mereka alami.

“yaaayyuhannaas…. Janganlah diantara kita merasa takut terhadap apa yang menimpa kita, sebab Allah selalu bersama kita. Mungkin kita adalah bangsa yang tak terpandang dimata mereka, namun yakinlah…yakinlah bahwa kita akan mulia di mata Allah bila kita menemukan syahid kita di sini.” kata seorang diantara mereka penuh lantang menembus sunyi.

Terlihat diantara mereka ada yang memeluk mushaf Qur’an di balik baju kusam  yang ia kenakan. Gazza seperti kota mati. Tak ada yang tergambar pemukiman yang rapih, semuanya hancur berantakan. Hanya tenda-tenda darurat yang terpasang beberapa buah. Tak ada lampu yang menerangi mereka. Tak ada air yang begitu banyak tuk membersihkan wajah mereka dari debu dan sisa-sisa asap yang masih memenuhi wajahnya.

“nak…apakah kamu takut dengan semua ini,?” kata ayahnya menatap Alya.
“apa yang harus saya takut kan abi? Bukankah kata orang tadi bahwa Allah selalu bersama kita! Dan bukankah ibu telah menemukan syurganya?” jawab Alya yang masih terlihat menggenggam mushaf tuanya yang berwna hitam.
“betul Alya! Ibumu telah menemukan syurganya, syurga yang telah di janjikan oleh mujahidah seperti ibumu” kata ayanya mengusap kepala Alya.
“kalau begitu, apa yang akan terjadi kepada kita esok hari ayah.?”
“entahlah, mungkin esok kita akan berkumpul bersaama ibumu kembali.”

***

Masih sedikit benang merah yang terlihat di balik ufuk timur, namun orang-orang sudah bagaikan lebah yang saling berhamburan. Seluruh warga sipil berlari tak karuan, gedung-gedung, pemukiman, dan tenda tak luput dari serangan rudal yang terus memborbardir daerah gazza.

Terlihat kaum lelaki yang berdiri di gardu terdepan membawa senjata yang ia miliki. Batu dan kerikil telah di genggam oleh kaum wanita. Tak terelakkan, deraian darah mengalir di negeri para nabi.

Hujaman meteor-meteor rudal terus menyeruak menghantam seluruh pemukiman. Satu persatu mujahid dan mujahidah tergeletak syahid di atas medan jihad. Kepulan asap dan debu menutup pandangan. Terdengar Takbir yang terus berkumandang menembus dentuman rudal.

Tempat itu seketika berubah menjadi menakutkan. Kobaran api terus menyela menerangi setiap sudut kota. Ledakan demi ledakan menggaungkan jihad di sana. Hamparan tanah di penuhi mayat-mayat yang tak berdosa, tetesan air mata tertumpah ruah di jalan-jalan. “ini tanah kami! Tanah nabi yang di wariskan kepada kami. Pergi kau penjajah! Allah bersama kita, dan kemenangan adalah janji yang pasti. AllahuAkbar…AllahuAkbar… ”terdengar kalimat yang terus mengalun indah dari mulut anak-anakgaza.

“alya!…alya!...alya!”terdengar suara Yasser memanggil anaknya. Terlihat letih dari keringat yang terus membanjiri tubuhnya, seluruh tempat telah ia datangi namun tetap ia tak menemukan anaknya.
“Yasser coba kamu pergi ke tenda korban anak di sebelah selat anujungan sana” jawab seorang pemuda sambil menunjuk tempat pemukimannya.
“apakah anak aku ada disana?”
“cobalah, seluruh anak-anak yang gugur di bawah ke tempat itu untuk di kafankan” jawabnya lagi.

Langkah demi langka Yasser tempuh.Terlihat sebuah tenda biru yang berukuran kecil di ujung matanya. beberapa orang berpakaian putih membawa tandu sambil keluar masuk tenda. Yasser tiba di pintu tenda, dengan sigap matanya terus memandang satu persatu wajah yang telah tergelatak terkafani. Matanya tertuju kepada mayat anak kecil di ujung tenda, seberkas senyum bersanding air mata terlihat di wajahnya.

“Nak!...ternyata kamu telah menemukan syahidmu di bandingkan abi, titip salamku untuk ibumu. Tanyakan kepada ibumu bahwa kita akan berkumpul di tempat indah yang bernama syurga yang telah dijanjikan oleh Allah untuk kita”ujar Yasser menahan tangisnya.